GoldenLovers, Pada Sabtu (28/7/2018) dini hari WIB, masyarakat Indonesia secara umum berkesempatan menyaksikan sebuah fenomena alam unik berbentuk gerhana bulan total (GBT). Ini bukan GBT sembarangan karena disebut Blood Moon yang juga bisa disaksikan di hampir seluruh wilayah dunia.

Situs LAPAN menyebutkan GBT kali ini akan menjadi gerhana bulan terlama sepanjang abad ke-21. Saat waktunya tiba, Bulan akan terlihat dalam warna kemerahan dan manusia bisa melihatnya dengan mata telanjang.

Mengapa GBT ini disebut Blood Moon? Faktanya piringan Bulan akan berubah warna dari oranye menjadi merah, tergantung pada bagian bayangan Bumi yang dilaluinya.

Selain di Indonesia; fenomena alam langka ini juga bisa disaksikan di India, Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tengah. Sedangkan mereka yang tinggal di Amerika Serikat, menurut Liputan6.com, tidak bisa menyaksikan fenomena tersebut dan harus menunggu hingga Juli 2020.

Blood Moon bakal bisa disaksikan dalam dua tahap. Pertama adalah gerhana bulan sebagian yang akan berlangsung selama 3 jam 55 menit mulai pukul 01.24 WIB hingga 05.19 WIB. Kedua, diikuti oleh gerhana bulan total selama 1 jam 43 menit mulai pukul 02.30 WIB hingga 04.13 WIB.

Meski peristiwa ini dapat disaksikan dari seluruh penjuru Indonesia, wilayah Indonesia bagian barat akan memiliki kesempatan untuk menyaksikannya lebih lama.

"Semakin ke barat, kita bisa memotret gerhana bulan lebih lama," kata peneliti Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), Rhorom Priyatikanto dikutip Kumparan (5/7).

Ini disebabkan gerhana bulan terjadi sejak dini hari hingga subuh Waktu Indonesia Barat. "Jadi, saat gerhana bulan total nanti ada daerah yang tidak sempat menyaksikan secara penuh," Tepatnya, di daerah-daerah wilayah Indonesia Timur (WIT).

Di zona tersebut, masyarakat hanya bisa menikmati awal dan puncak gerhana. Sedangkan akhir gerhana tidak akan bisa disaksikan.

Penyebabnya adalah Bulan sudah lebih dulu terbenam ketika gerhana bersiap terjadi. Bahkan sebagian besar wilayah Papua tidak akan bisa menikmati puncak gerhana karena hal itu.

Sementara di zona waktu WITA, sebagian kepulauan Nusa Tenggara, sebagian kecil Pulau Kalimantan dan seluruh Sulawesi tidak akan bisa menikmati akhir gerhana karena Bulan terbenam lebih dulu. Seluruh Pulau Jawa dan sebagian Pulau Sumatra juga tidak bisa menyaksikan akhir gerhana ini.

"Selama 20 tahun ke depan gerhana ini tidak akan terkalahkan. Dalam 20, 30 tahun mendatang tidak ada yang selama gerhana 28 Juli nanti," ujar Rhorom.

Lalu apa yang menyebabkan gerhana bulan nanti bakal berlangsung sangat lama?Rhorom menjelaskan, ini ada hubungannya dengan pergerakan dan ukuran penampakkan Bulan itu.

"Pada gerhana 28 Juli nanti, kebetulan Bulan berada dekat dengan apogee. Apogee adalah titik terjauh Bulan dari Bumi. Karena itu, Bulan akan terlihat lebih kecil dari biasanya. Ada yang bilang (Bulan yang berukuran kecil ini sebagai) micro moon, (atau) mini moon," katanya.

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin juga membenarkan hal itu. Dihubungi Beritagar.id via aplikasi pesan instan WhatsApp (6/7), Thomas menjelaskan bahwa GBT nanti lebih cocok disebut Micro Blood Moon karena purnamanya terkecil.

Ukuran itu terjadi lantaran Bulan berjarak paling jauh dari Bumi sehingga ukuran purnama lebih kecil dari rata-rata. Karena lebih kecil dari biasanya, Bulan akan menghabiskan waktu lebih lama saat melewati bayangan Bumi.

GBT terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus sehingga sinar Matahari ke Bulan terhalang oleh Bumi. Pada saat itulah akan terbentuk daerah bayangan Bumi.

Seberapa lama Bulan akan melewati daerah tersebut akan tergantung jarak Bulan dan Bumi. Semakin jauh jaraknya, ukuran Bulan akan terlihat lebih kecil dan semakin lama pula waktu yang dibutuhkannya untuk melewati daerah bayangan Bumi.

Rhorom pun menggunakan analogi bus dan mobil. "Kita punya mobil kecil, gerakannya sama cepatnya dengan bus. Akan tetapi karena mobil ini ukurannya lebih pendek, maka untuk menempuh jarak 10 meter misalnya, akan tampak lebih lama dibandingkan bus," jelas Rhorom.

Menurut para ilmuwan sebagaimana dijelaskan oleh Indian Express (6/7), gerhana bulan ini aman dilihat dengan mata telanjang. Masyarakat tidak perlu menggunakan kacamata khusus karena pancaran sinar Bulan memiliki cahaya jauh lebih rendah dibandingkan Matahari.

Selain GBT, akan ada fenomena alam lainnya berupa jarak terdekat Mars dengan Bumi sejak 2003 pada 27 Juli. Mars, Bumi, dan Matahari akan berada pada garis yang sama.

Posisinya, Bumi berada di tengah Mars dan Matahari. Itu berarti Mars akan terasa terlihat lebih besar ukurannya hingga 2,7 kali lipat.