GoldenLovers, Hasil Pilkada 2018 membuat sejumlah partai politik mengatur strategi dan siasat dalam menghadapi Pemilu 2019. Sebab, banyak hasil Pilkada di sejumlah daerah yang di luar prediksi.

Direktur Eksekutif Indonesia Watch for Democracy (IWD) Endang Tirtana mengatakan, meskipun penghitungan real time Komisi Pemilihan Umum belum final, namun hasil hitung cepat lembaga survei membuat sejumlah partai terkejut.

Seperti hasil hitung cepat Pilgub Jabar yang mengejutkan semua orang. Pasangan Sudrajat-Syaikhu ternyata memperoleh suara 28,81 persen, menempel tipis pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum 33,2 persen. Meninggalkan jauh pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dengan perolehan suara 25,55 persen.

BACA JUGA:

Posisi buncit diduduki pasangan TB Hasanudin-Anton Charilyan yang diusung PDI Perjuangan dengan 12,44 persen suara. Padahal PDIP adalah pemilik kursi terbanyak di DPRD Jabar.

"Apa yang terjadi di Pilkada 2018 menjadi gambaran peta politik di Pilpres dan Pemilu 2019. Ini akan menjadi petunjuk bagi partai politik untuk melakukan evaluasi dan menyusun ulang strategi pada Pemilu 2019," kata Endang dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 29 Juni 2018.

Endang mengatakan, partai oposisi mampu mengimbangi kekuatan partai pro pemerintah. Situasi itu membuat partai pemerintah mengatur ulang strategi untuk Pemilu 2019.

Namun, kata Endang, dari 154 kabupaten dan kota, PDIP berpartisipasi di 152 daerah. Dari 152 daerah yang diikuti, PDIP menang di 91 daerah atau sebanyak 60 persen.

Menurut Endang, keberanian PDI Perjuangan memilih kandidat yang berbeda dari selera mainstream telah melahirkan Jokowi, Ganjar, Risma dan lain-lain.

"Cara PDI Perjuangan memberikan kesempatan pada kadernya berhasil dan membuat suara PDI Perjuangan rebounds dibanding Pemilu 2004 dan Pemilu 2009," katanya.

Endang Tirtana menyesali masih ada indikasi permainan isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) pada pilkada kemarin. "Isu SARA bikin sakit demokrasi. Mari kita tinggalkan permainan isu SARA dalam politik," kata Endang.