GoldenLovers, Drama penyanderaan oleh para narapidana terorisme di Rumah Tahanan (Rutan) Markas Komando (Mako) Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, berakhir sudah. Setelah 36 jam, penyanderaan yang melibatkan 156 napi terorisme itu bisa dituntaskan.

Lima anggota Polri yang disandera gugur dibunuh secara keji saat drama penyanderaan yang berlangsung sejak Selasa (8/5). Seorang terduga teroris dilaporkan tewas dalam insiden. Simpati, empati, dan duka yang mendalam kita sampaikan kepada keluarga dari lima prajurit Polri yang gugur dalam penyanderaan.

Mereka ialah Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto, Brigpol Luar Biasa Anumerta Fandy Setyo Nugroho AMd, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas, dan Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi SH.

Kita mengutuk sekeras-kerasnya tindakan pembunuhan keji, brutal, dan sadis terhadap 5 anggota Polri serta penganiayaan terhadap 4 orang lainnya yang dilakukan sejumlah narapidana teroris di Rutan Mako Brimob. Tindakan para napi terorisme tersebut jelas aksi biadab, kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat manusia sehingga membuat hak hidup para korban tercabut.

Di sisi lain, kita memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada institusi Polri yang telah berhasil mengakhiri drama penyanderaan dengan menjalankan pembebasan dan pemulihan di Mako Brimob dengan sangat profesional.

Dengan sebuah operasi terukur dan sangat terkendali, Polri sukses membebaskan sandera serta melumpuhkan 155 napi terorisme tanpa seorang pun teroris ditembak mati. Untuk itu, sekali lagi, kita menyampaikan salut dan hormat atas profesionalisme Polri yang mampu memperlihatkan soft approach yang piawai dilanjutkan dengan evakuasi 155 napi terorisme ke LP Pasir Putih Nusakambangan, saat itu juga.

BACA JUGA:

Namun, peristiwa di Mako Brimob itu semestinya juga menjadi pelajaran bagi Polri. Polri harus mengintrospeksi diri. Aksi terorisme merupakan ancaman laten tidak pernah mati. Terorisme akan terus ada bersama berlangsungnya kehidupan manusia. Kapan pun dan di mana pun terorisme dapat terjadi, termasuk di markas pasukan elite Polri, yakni Brimob.

Yang menjadi korban terorisme bisa siapa saja, termasuk polisi yang bertugas untuk memberantas aksi teror, seperti yang terjadi dalam drama penyanderaan di Mako Brimob. Bahkan mungkin karena Polri institusi yang gigih memberantas terorisme, anggotanya kini menjadi sasaran utama terorisme.

Oleh karena itu, kita harus terus waspada terhadap gejala munculnya benih terorisme sekecil apa pun. Kompleksitas terorisme yang tinggi menuntut kerja sama yang erat pula dari seluruh elemen bangsa agar ia dapat ditangani secara tegas, lugas, dan tuntas manakala gejala dan aksi itu muncul ke permukaan.

Terorisme pada umumnya lahir dari gerakan radikalisme, termasuk radikalisme agama. Gerakan radikalisme agama memang bukan hanya dijumpai dalam Islam, melainkan ada pada semua agama. Karena itu, kita mendukung dan mendorong agar program deradikalisasi dijalankan, diteruskan, dan dikuatkan.

Fakta bahwa 156 pelaku penyanderaan di Mako Brimob disebutkan belum mengikuti program deradikalisasi menguatkan argumen bahwa program ini penting dan mendesak untuk dijalankan secara lebih substantif.

Terorisme, di sisi lain, lahir dari cara berpikir dan cara pandang intoleran. Intoleransi akan menumbuhkembangkan tindakan-tindakan radikal yang berujung pada aksi terorisme. Inilah yang tidak boleh kita biarkan.