GoldenLovers, Semua makhluk pasti akan menua. Umumnya, sebagian besar dari kita menghadapi penuaan dengan sikap yang wajar, seperti yang sering dikatakan orang bahwa menua tidak bisa dihindarkan, tetapi menjadi tua adalah pilihan.

Menariknya, sebuah laporan penelitian terbaru memperlihatkan bahwa generasi milenial memandang penuaan sebagai hal yang mengganggu. Hal ini terkait dengan diskriminasi terhadap usia dan kesehatan yang memburuk ketika tua.

Dilansir dari Independent, Royal Society for Public Health (RSPH) yang bekerja sama dengan Calouste Gulbenkian Foundation, baru-baru ini melaporkan hasil penelitian mereka tentang ageisme yang sekarang meluas di kalangan masyarakat.

Ageisme merupakan prasangka atau diskriminasi atas dasar usia seseorang. Hal ini terlihat nyata pada orang-orang berusia muda dan menghasilkan perilaku diskriminatif terhadap orang yang lebih tua.

Para peneliti melakukan survei untuk mengukur sikap terhadap orang tua dan lanjut usia.. Mereka melibatkan sekitar 2.000 orang yang berusia antara 18 sampai 34 tahun di seluruh Inggris. Penelitian ini mengidentifikasi sikap-sikap diskriminatif dalam 12 bidang yang berbeda, seperti, kesan umum terhadap penuaan, kesehatan fisik, kebijaksanaan, partisipasi dalam kegiatan, kebahagiaan dan kestabilan emosi, hubungan sosial, ingatan, peran dalam masyarakat, penampilan, kemandirian dan kontrol, kepribadian dan pertumbuhan pribadi.

Para partisipan diminta untuk memberikan skor antara -2 dan +2 pada setiap kategori, yang mencerminkan sikap negatif atau positif mereka melihat berbagai aspek tersebut, dikaitkan dengan bertambahnya usia.

BACA JUGA:

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam makalah berjudul That Age Old Question dalam situs Royal Society for Public Health (RSPH) ini menunjukkan bahwa para partisipan yang merupakan bagian dari generasi milenial memandang usia tua sebagai sesuatu yang negatif atau sebagai suatu periode kemunduran dan masalah.

Sebanyak 25 persen dari mereka meyakini bahwa depresi merupakan hal yang normal pada orang lanjut usia, begitu juga ketidakbahagiaan.

Lalu, 30 persen lainnya meyakini bahwa kesepian hanyalah sesuatu yang terjadi ketika seseorang menjadi tua. Bahkan, penelitian juga menemukan bahwa dua dari lima orang yang berusia antara 18 sampai 24 tahun, percaya bahwa demensia merupakan bagian yang tidak terhindarkan dari penuaan.

The Telegraph mengungkapkan bahwa menurut laporan penelitian tersebut orang-orang muda itu cenderung bersikap diskriminatif terhadap penampilan, kehilangan ingatan atau lupa dan partisipasi fisik serta aktivitas dalam komunitas.

Hampir 50 persen perempuan dan 25 persen laki-laki peserta survei mengaku bahwa mereka merasa tertekan untuk tetap tampil muda. Sementara dua dari tiga orang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki teman dengan jarak usia 30 tahun atau lebih.

Secara keseluruhan, sikap ageisme merupakan hal yang umum terjadi di kalangan generasi milenial. Hal ini menyebabkan mereka dianggap memiliki pandangan yang negatif tentang menjadi tua dari semua kelompok umur lainnya. Tentu saja pandangan tentang penuaan ini salah, tetapi telanjur meresap, karena berbagai pandangan-pandangan yang salah tentang usia tua yang dimulai sejak usia muda.

Hal menarik dari penelitian tentang ageisme menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sikap negatif tentang pertambahan usia alias menjadi tua memiliki harapan hidup tujuh setengah tahun lebih sedikit daripada mereka yang memandang penuaan secara positif.

Dampak kesehatan lain yang dihasilkan dari sikap atau pandangan negatif terhadap penuaan adalah peningkatan kehilangan memori, risiko depresi, kecemasan yang lebih tinggi, berkurangnya kemampuan untuk pulih dari penyakit, tidak mengatur pola makan dan olahraga, serta citra tubuh yang buruk, menurut laporan itu.

Kepala eksekutif RSPH, Shirley Cramer, mengatakan bahwa perilaku dan bahasa yang menjurus pada sikap diskriminasi terhadap usia tua (ageist) sudah terlalu sering dibiarkan dan diremehkan.

“Disajikan sebagai lelucon atau bahan olok-olok, sesuatu yang tidak dapat ditoleransi jika tentang prasangka lain,” ungkap Cramer.

“Laporan kami menunjukkan bahwa sikap-sikap ini semakin meluas di masyarakat, dan memiliki dampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Namun, sikap-sikap seperti ini jarang dianggap serius, seperti yang seharusnya," urainya.

Cramer menambahkan sebenarnya mayoritas masyarakat masih memercayai bahwa pada dasarnya orang tua dan orang muda memiliki lebih banyak kesamaan. Seharusnya hambatan untuk memperkuat sosialisasi dalam masyarakat itu bisa dihilangkan.

Kemudian, untuk memerangi sikap diskriminatif terhadap usia tua ini, RSPH telah memulai beberapa kampanye. Salah satunya adalah kampanye untuk mengakhiri penggunaan istilah ‘anti-penuaan’ dalam industri kosmetik dan kecantikan.

Menurut RSPH, istilah anti-penuaan terbukti telah menyebabkan tekanan yang dirasakan perempuan dan laki-laki untuk terlihat muda.

Gagasan lainnya adalah mengatasi sikap diskriminasi terhadap usia tua di sekolah-sekolah dengan menginisiasi berbagai kegiatan yang melibatkan orang-orang dari berbagai generasi sehingga kesenjangan usia dapat disatukan.