"Halo, saya ingin membuat jadwal potong rambut perempuan untuk klien saya. Bagaimana kalau tanggal 3 Mei?" terdengar suara seorang perempuan di ujung telepon.

"Baik, berikan saya waktu sebentar," kata pegawai salon yang dihubungi.

"Mm-hmm," jawab si perempuan tadi dengan gumaman sebagai tanda mengiyakan.

GoldenLovers, Sepintas tak ada yang aneh dengan dialog di atas. Terdengar biasa saja layaknya pelanggan yang sedang memesan jadwal potong rambut.

Namun, sebenarnya, si perempuan bukanlah manusia, melainkan sebuah program kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terbaru di Google Assistant bernama Duplex yang dipamerkan Google dalam ajang Konferensi tahunan pengembang Google I/O di kota kelahirannya, Mountain View, California, Amerika Serikat, pada 8-10 Mei 2018.

Seperti dijelaskan dalam unggahannya di blog Google, Duplex adalah sebuah teknologi baru yang mampu melakukan percakapan untuk melakukan tugas di dunia nyata melalui telepon.

BACA JUGA:

Pada CNET (10/5), CEO Google Sundar Pichai mengatakan AI mereka dapat meniru suara manusia untuk menelepon layanan bisnis dan melakukan reservasi untuk para pengguna mereka. Teknologi ini disebut dapat mengelabui orang lain dan melebihi kemampuan para pesaingnya seperti Alexa Amazon dan Siri Apple.

Namun, yang menarik dari Duplex adalah suara dan bahasa sang "perempuan" terdengar sangat alami seperti orang sungguhan. "Dia" pun bisa memahami kata-kata lawan bicaranya di telepon dengan lancar. Bahkan si robot bisa mengeluarkan kata-kata yang biasanya hanya diucapkan oleh manusia, seperti gumaman "Mm-hmm".

Bahkan pada akhir percakapan, robot itu mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Duplex sendiri benar-benar terlihat seperti layanan AI tingkat lanjut yang akan berguna pada masa mendatang.

Tentu saja, untuk menggunakan teknologi ini, pengguna harus tetap memerintahkan Google AI untuk melakukan sesuatu, seperti "pesankan tiket pesawat" lengkap dengan detail yang diinginkan. Setelah itu, AI akan memesankan untuk penggunanya.

Di balik Duplex terdapat serangkaian teknologi yang digunakan agar program bisa mengerti bahasa dalam percakapan sehari-hari yang bersifat lebih acak, lebih cepat diucapkan, dan lebih tergantung konteks dibandingkan pembicaraan dengan komputer dalam bahasa yang disederhanakan.

Google menerapkan Recurrent Neural Network (RNN) yang dibangun dengan framework TensorFlow Extended. Automatic Speech Recognition dipakai untuk memahami kata-kata yang diucapkan lawan bicara.

Lalu, engine text to speech dipakai untuk mengontrol intonasi suara. Ada juga penambahan gumaman dan jeda antar-kata agar suara terdengar lebih natural, seperti manusia sungguhan saat berbicara.

CEO Google tengah memamerkan Duplex, sebuah fitur terbaru dari Google Assistant dalam ajang Konferensi tahunan pengembang Google I/O di Mountain View, California, Amerika Serikat, 8-10 Mei 2018 | /YouTube.

Perdebatan Etika Robot

Akan tetapi, dengan munculnya Duplex, muncul juga perdebatan tentang etika robot yang mampu berinteraksi dengan manusia.

Orang-orang telah menunjukkan kekhawatiran tentang mesin yang dapat dengan mudah menipu manusia. Teknologi ini telah menimbulkan pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan perusahaan kepada AI yang bisa berbicara layaknya manusia, serta bagaimana Google dapat memastikan teknologi semacam ini tidak disalahgunakan.

Menurut Alex Cranz dari Gizmodo, Google Duplex canggih namun sekaligus menakutkan. Bagi penggemar film Sci-fi, ini adalah hal yang menakutkan karena ini satu langkah lebih dekat dengan AI yang dimasukkan ke dalam robot untuk diperbudak dan akhirnya memberontak, karena perbudakan kecerdasan buatan digital secara moral menjijikan.

Saat ini saja, Google memiliki akses ke banyak informasi Anda. Sebagai contoh, ia tahu semua yang Anda gunakan di peramban Chrome dan tempat-tempat yang Anda kunjungi di Google Maps. Bahkan jika Anda memiliki perangkat Android, ia tahu siapa yang Anda hubungi.

Kemudian, jika Anda menggunakan Gmail, ia tahu seberapa sering Anda melewatkan surel berantai dari ibu Anda. Memberikan akses ke AI yang berpura-pura menjadi manusia ke semua informasi itu bisa jadi menakutkan bagi manusia.

Menurut Google seperti dilansir The Verge (9/5), teknologi ini masih berada dalam masa awal pengembangan. Teknologi ini masih belum sempurna apalagi jika penerima telepon mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

Saat ini, Duplex memang baru bisa bekerja dalam tiga skenario saja, yakni membuat reservasi di restoran, penjadwalan potong rambut, dan meminta jam libur. Dan Google berencana untuk melakukan pengujian awal Duplex ke dalam fungsi Google Assistant di musim panas ini.