GoldenLovers, Indonesia kembali digegerkan aksi teror di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) pagi. Aksi bom bunuh diri itu merenggut nyawa sekaligus korban luka-luka. Apa yang mendorong pelaku sampai mau melakukan aksi bom bunuh diri?

Jawaban untuk ini pada dasarnya berada di area abu-abu. Namun, sejumlah kajian ilmiah dan pendapat para ahli memastikan dua hal: penyimpangan perilaku dan kecacatan psikologis.

Muasal bom bunuh diri bermula pada tahun 1981. Kala itu bocah lelaki 13 tahun bernama Hossein Fahmideh mengukir sejarah dengan menggenggam granat dan melemparkan dirinya ke bawah sebuah tank semasa perang Iran-Irak.

Kematiannya menjadikan bom bunuh diri sebagai metode paling populer untuk membumihanguskan musuh. Ia pun menginspirasi ribuan pemuda Iran melakukan hal serupa dengan mengatasnamakan jihad.

Sayangnya, semakin ke sini bom bunuh diri juga melibatkan paradoks dalam Islam. Di satu sisi, Islam mengharamkan bunuh diri. Terlebih lagi, hukum jihad dengan jelas menyatakan bahwa pejuang tidak boleh menghabisi nyawa orang yang tak bersenjata ataupun tidak melakukan perlawanan.

Di sisi lain, mereka yang kurang pemahaman soal agama meskipun berpendidikan tinggi, buta huruf, dan terbelakang sangat rentan terhadap doktrin mentah yang disebut kalangan psikolog sebagai "true believerism" atau keyakinan sejati. Ini mirip cuci otak yang membuat individu di dalam suatu kelompok membenarkan suatu hal tanpa bisa diganggu gugat.

Mereka membenarkan bahwa siapa saja yang mati saat berperang melawan non-Muslim akan dianggap sebagai martir dan layak mendapat surga. Mereka pun diikat dengan pemahaman bahwa muslim mencintai kematian, sedangkan yang lainnya adalah musuh penyembah kehidupan.

Dalam ranah yang lebih luas, doktrin tadi bukan cuma mendorong orang melakukan bom bunuh diri, tapi juga menjadikan para pelaku pengeboman sebagai "boneka" agar suatu kelompok militan yang lebih kecil meningkat statusnya, diakui keberadaannya, juga didukung sistem politiknya.

Atas dasar itu, sejumlah kajian awal terkait bom bunuh diri menyimpulkan bahwa perilaku tersebut murni didorong oleh ideologi Islam radikal.

Satu studi misalnya, menekankan bahwa para pelaku stabil secara psikologis dan bersedia mengorbankan nyawanya karena alasan altruis. Layaknya pahlawan di medan perang yang rela mati demi membela martabat negara. Akan tetapi asumsi itu kemudian diragukan seiring perkembangan temuan ilmiah.

BACA JUGA:

Peneliti dari Universitas Tel Aviv di Israel menemukan bahwa pelaku pada umumnya cenderung terintimidasi, mudah dikendalikan, dan depresif. Mereka juga tidak mutlak menjadikan agama sebagai motivasi utama pengeboman.

Dr. Eyad Sarraj, psikiater Muslim di Palestina mengatakan, pengebom bunuh diri biasanya orang-orang yang sangat penakut, introver, sulit berkomunikasi, dan sama sekali tidak melakukan kekerasan.

Dengan melakukan aksi ekstrem, kata dia, mereka seolah bisa mengatasi kekurangannya tadi lewat keberanian besar menghadapi kematian. Mereka juga merasa bagaikan idola, ikon, bahkan pahlawan karena telah melakukan hal yang dianggapnya paling mulia. Baik itu di mata Tuhan maupun sejawatnya.

Tak hanya itu, aksi bom bunuh diri juga kerap dipicu kemiskinan dan keinginan balas dendam. Pun dilakukan perempuan.

Laporan 2018 oleh Universitas Tel Aviv mengungkap, sepanjang 2017 jumlah pengebom bunuh diri di seluruh dunia yang terverifikasi mengalami penurunan ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, pengebom perempuan meningkat signifikan.

Dr. Nancy Kobrin dari American Center for Democracy, seorang psikoanalis yang juga ahli kontraterorisme menyebutkan, perempuan banyak dilibatkan karena dampak teror dan kekerasan yang ditimbulkannya bisa jauh lebih besar ketimbang laki-laki.

Pelaku biasanya dipaksa, tapi sebagian besar juga datang secara sukarela. Menurutnya ada banyak faktor yang memotivasi perempuan, misalnya kehidupan yang menyedihkan, dilecehkan laki-laki, hingga balas dendam atas suatu penderitaan.

Satu studi pun menemukan aksi pelaku pengebom perempuan biasanya disebabkan permasalahan psikologis seperti stres pasca-trauma, keputusasaan, dan hilang harapan.

Selain motif-motif di atas, peneliti dari Universitas Oxford yang dipimpin oleh Profesor Harvey Whitehouse juga telah menyingkap adanya proses psikologis unik yang disebut "identity fusion" atau peleburan jati diri.

Proses ini diyakini sebagai dorongan utama yang membuat orang bersedia menjadi pelaku bom bunuh diri. Bahkan, mampu mendorong seseorang rela mengorbankan nyawanya jauh lebih kuat dari sekadar mengidentifikasi diri berada dalam suatu kelompok.

Proses peleburan jati diri merupakan rasa mendalam yang menyatu dalam suatu kelompok karena ditempa oleh satu asa satu rasa. Mereka membentuk hubungan persaudaraan psikologis layaknya kerabat biologis dari kesamaan lingkungan dan pengalaman sehingga muncul keinginan saling membela dan melindungi.

Menurut Whitehouse, penelitiannya bisa membantu pembuat kebijakan untuk mengembangkan strategi guna melawan munculnya ekstremisme kekerasan.