GoldenLovers, Apakah ada orang-orang tertentu yang lebih percaya pada berita palsu atau populer dengan istilah hoax? Jawabannya, ya, ada. Berdasarkan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan sekelompok ilmuwan dari Yale University mengungkapkan bahwa individu yang rentan terhadap masalah kejiwaan cenderung mudah percaya berita palsu.

Dalam presentasi di hadapan para peserta Schizophrenia International Research Conference yang berlangsung pada 4 - 8 April 2018 lalu, Florence, Italia, para peneliti Yale tersebut mengatakan, semakin meluasnya perkembangan berita palsu terkait dengan peningkatan dukungan terhadap gagasan yang sifatnya khayalan dan delusional.

Mereka yang rentan delusi, cenderung menerima gagasan atau informasi yang tidak masuk akal dan tidak relevan. Hal ini terjadi karena mereka tidak terbiasa terlibat pemikiran analitik dan tidak aktif untuk memiliki pikiran yang terbuka.

BACA JUGA:

Makalah yang dipublikasikan Social Science Research Network pada 3 Mei 2018 yang lalu itu menyebutkan, dua penelitian yang melibatkan lebih dari 1.000 partisipan ini menunjukkan bahwa mereka yang punya kecenderungan delusional (seperti percaya orang-orang bisa berkomunikasi lewat telepati) sering memperlihatkan keyakinan mereka terhadap berita-berita palsu atau yang menampilkan materi tidak masuk akal.

Penelitian-penelitian ini juga menyampaikan dua bentuk pemikiran yang dapat melindungi diri seseorang dari berita palsu.

Pertama, aktif berpikiran terbuka dengan melibatkan pencarian untuk penjelasan alternatif dan menggunakan bukti untuk merevisi apa yang sebelumnya diyakini.

Kedua, berpikir analitik dengan melibatkan proses bepikir yang tenang dan hati-hati atau tidak bersikap impulsif.

Tidak berpikiran secara terbuka dan analitik membuat seseorang jadi cepat begitu saja percaya terhadap berita palsu.

Selain itu, penelitian juga memperlihatkan bahwa orang-orang yang cepat percaya berita palsu memiliki sifat dogmatik dan ekstrem pada agama.

Hasil penelitian ini juga menyiratkan adanya intervensi yang dirancang untuk meningkatkan seseorang agar berpikiran terbuka, lebih cerdas, dan analitik. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk membantu mencegah dampak yang buruk dari percaya terhadap berita palsu.

Mengutip artikel yang ditulis Laura Hazard Owen di situs NiemanLab, para peneliti menggunakan metode Mechanical Turk untuk mempelajari dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 500 orang partisipan.

Mereka diminta untuk menilai keakuratan 12 judul berita palsu serta satu set berita utama yang nyata.

Mereka juga diuji dengan empat hal lain, yaitu: versi singkat dari tingkat pemikiran aktif yang terbuka, ukuran dogmatisme (atau pemikiran yang menganggap apa yang diyakini adalah hal yang paling benar, dan tidak akan pernah meragukannya), ukuran fundamentalisme agama (seperti pemikiran bahwa penyebab dasar kejahatan di dunia ini adalah setan, yang masih dan selalu berperang melawan Tuhan), serta ukuran tingkat delusional (dengan menggunakan tes Peters et al. Delusion Inventory).

Kemudian, seluruh peserta diminta untuk menjalani tes refleksi kognitif. Para peserta dari kelompok kedua juga menjalani kedua tes tersebut.

Hasilnya, menunjukkan bahwa mereka yang mendukung gagasan yang sifatnya khayalan lebih mungkin memercayai berita palsu. Begitu pula halnya mereka yang dogmatis dan fundamentalis agama.

Para peneliti, yang terdiri dari Michael Bronstein, Gordon Pennycook, Adam Bear, Tyrone Cannon dan David Rand dari Yale University, Amerika Serikat ini, menyebutkan bahwa orang-orang yang rentan terhadap delusi, dogmatis serta fundamentalis agama lebih mungkin memercayai berita palsu, daripada orang-orang lain yang berpikiran analitik dan terbuka.

David Rand mengatakan kepada Laura Hazard Owen dari NiemanLab lewat surat elektronik, pihaknya tidak bisa dan tidak pernah menyimpulkan bahwa otomatis orang yang dogmatis dan fundamentalis percaya terhadap berita palsu, tetapi terjadi secara bersamaan.