GoldenLovers, Mudik dan pemudik -di zaman now disebut mudiker- adalah personifikasi pasangan bahagia yang merayakan hari raya Idul Fitri. Karena mudik dipahami sebagai kembali ke udik, maka bagi mudiker diksi mudik menjadi magnet besar di hari nan fitri.

Ritual mudik dalam konteks kebutuhan mudik mensyaratkan pertemuan fisik antara sang mudiker dengan orang udik. Transfer energi positif antara mudiker dengan sang udik, yang menjadi penjuru inti hidup dan kehidupannya, tidak dapat tergantikan oleh apa pun.

Mengapa demikian? Sebab ia dimitoskan mampu membangunkan adrenalin rasa kangen. Sebentuk ruang rindu membuncah di kalbu mudiker untuk sungkem kepada orangtuanya di desa. Menjadi ruang silaturahmi sambil berswafoto bersama sanak saudara, handai taulan dan sahabat masa kecil di lingkungan asalnya.

BACA JUGA:

Penampakan visualnya direpresentasikan lewat prosesi menggenggam tangan simbol lelaku bermaaf-maafan. Aksi damai berdimensi sosial keagamaan itu sekaligus berfungsi sebagai obat bahagia penawar rasa rindu. Ia hadir dan diejawantahkan sebagai medium mencari jejak suci nan fitri. Asalnya bermuara dari tanah leluhur ibu pertiwi.

Aura simbolik

Fenomena mudik dengan aktor utamanya sang mudiker merupakan representasi gaya hidup budaya konsumtif yang tampil secara artifisial. Gaya hidup sukses sang mudiker mensyaratkan semuanya harus ditakar lewat timbangan uang yang ada di saku celananya.

Pertanyaannya, mengapa mudiker menjadi kelompok potensial yang diperebutkan produsen industri pariwisata? Karena di dalam tubuh mudiker mengandung beragam aura simbolik: simbol kehidupan, simbol kekuasaan, simbol kebenaran atau pun simbol moralitas.

Mitosnya, jika berhasil menaklukkan hati mudiker, maka para produsen industri pariwisata diyakini mampu menguasai gaya hidup dan kehidupan mudiker yang ingin menikmati waktu jeda sejenak dari rutinitas bekerja.

Di jagat budaya layar, mitos seperti itu terlihat sekali dalam praktiknya di ranah marketing komunikasi. Beragam objek pariwisata secara komunikasi visual dihadirkan kepadamudiker.

Mereka menciptakan beraneka iklan objek pariwisata yang menjadi keinginan mudiker saat mudik. Bermacam pesan verbal dan pesan visual produk industri pariwisata diternakkan melalui bermacam-macam media iklan.

Saat mudiker pulang mudik, pesan komersial tersebut dipaparkan lewat iklan luar ruang yang ditancapkan di sepanjang jalur mudik. Demikian pula iklan televisi, iklan koran, iklan majalah diminta kerjasamanya untuk mengepung mudiker. Hal itu dilakukannya agar pesan verbal dan pesan visual yang dilemparkan produsen industri pariwisata dapat ditangkap dengan bahagia oleh mudiker.

Bisnis pariwisata

Medio Juni menjadi bulan suci yang senantiasa ditunggu siapa pun untuk merayakan hari raya Idul Fitri 1439 H. Fenomena sosial keagamaan ini juga menjadi representasi kebutuhan spiritual guna menikmati waktu jeda sejenak lewat momentum mudik. Bagi pelaku bisnis industri pariwisata hal itu merupakan peluang bisnis yang berujung keuntungan fulus menggunung.

Bagi pelaku bisnis pariwisata, momentum mudik lalu ditahbiskan sebagai ladang perburuan rezeki. Sebagian besar objek wisata yang dijual bersumber dari keelokan alam raya. Karena dirasa kurang mendatangkan berkah keuntungan, dagangannya pun ditambah dengan mengkomodifikasikan budaya lokal di sekitar objek wisata tersebut. Pemanis lainnya berwujud hotel, mal, pusat kuliner dan pusat perbelanjaan.

Sebagai industri, modus operandi bisnis pariwisata pun harus menyepakati konsep bisnis komersial. Semuanya ditakar berdasarkan kuasa uang sebagai persyaratan hitung-hitungan untung dan laba. Karena targetnya untung plus laba, mereka gencar mempromosikan objek wisata yang menjadi dagangannya.

Efeknya membawa berkah sekaligus susah. Berkah karena uang mudiker dapat disedot dan diubah menjadi bagian dari keuntungan. Pelaku bisnis pariwisata hidup sejahtera. Berkah tersebut bagi pemerintah dimaknai sebagai terpenuhinya pundi-pundi pendapatan asli daerah.

Susahnya? Saking gencarnya promosi wisata yang tidak dibarengi tersedianya sarana dan prasarana industri pariwisata, kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan indah yang membuat susah. Bertaburnya hotel, pusat perbelanjaan dan mal sebagai bagian dari industri pariwisata menyisakan pilu berkepanjangan. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar objek wisata akhirnya tergilas kepentingan ekonomi bisnis pariwisata.

Warga yang terdampak bisnis pariwisata merasakan ruang patembayatan sosial semakin menyempit; bahkan perlahan musnah. Sumur warga mengering akibat sedotan pompa air dari sejumlah hotel yang egois dalam menjalankan usahanya. Kemacetan lalu lintas semakin menunjukkan kekuasaannya di jalan raya. Jumlah sampah yang berserakan di ruang publik menghadirkan pemandangan kumuh. Premanisme parkir dan penguasaan trotoar oleh pedagang kaki lima menjadi ajang konflik baru di ruang publik.

Masalahnya kemudian, momentum mudik dan pariwisata yang diharapkan menjadi oase spiritual, akankah terpenuhi? Fenomena lebaran dan pariwisata yang diharapkan mampu memperbaharui kesegaran hati dan pikiran akibat desakan rutinitas bekerja, akankah sesuai yang diharapkan?

Dr. Sumbo Tinarbuko, pemerhati budaya visual dan dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta