GoldenLovers, Teknologi memang sedang naik daun di berbagai belahan dunia. Hal ini juga mendorong tren terjadinya digitalisasi di berbagai perusahaan. Tren ini pula yang akhirnya membuat beberapa profesi menjadi bersinar, salah satunya adalah ilmuwan data.

Menurut laporan Forbes, pada 2016 ada sekitar 2.600 lowongan kerja untuk ilmuwan data yang dibuka tiap bulan. Hasil riset McKinsey Global Institute juga memprediksi bahwa di tahun ini, jumlah tersebut akan meningkat menjadi 200 ribu lowongan kerja.

Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia?

Netty Setiawan yang merupakan bagian dari tim data predictive analytics di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengungkap, kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di bidang ini terus mengalami peningkatan seiring waktu.

"Kebutuhannya (SDM) pada 2018 mencapai 50 orang, pada 2019 mencapai 150 orang dan pada 2020 menjadi 300 orang," kata Netty di Jakarta Data Girl (2/5).

BACA JUGA:

Sebagai gambaran, Netty juga memberikan beberapa manfaat predictive analytics pada data bagi bisnis. Melalui pengolahan dan analisis data, sebuah bisnis bisa melakukan deteksi penipuan dari data perilaku yang masuk.

Kemudian, hasil analisis juga bisa dipakai untuk collections scoring yang bisa membantu bank menentukan credit scoring seorang nasabah. Output lainnya adalah, hasil analisis bisa membantu melakukan pemasaran pada segmen yang tepat (marketing optimization) dan mengetahui perilaku belanja seseorang (market basket analysis).

Tak hanya itu, bank juga bisa mengetahui nasabah mana saja yang berpotensi menutup rekening (churn analysis) serta nasabah mana yang layak untuk dipertahankan (customer lifetime value).

Bagaimana? Masih ragu dengan kesempatan kerja di bidang ilmu data di Indonesia?

 

Loading...
loading...
loading...