GoldenLovers, Anda yang punya kebiasaan tidur mendengkur dan berencana mengemudi jarak jauh, ada baiknya mencari sopir pengganti. Sebab rutin mendengkur bukan sekadar tanda bahwa Anda tertidur lelap setelah melalui hari yang melelahkan. Namun, terkait juga dengan bahaya mengantuk yang bisa meningkatkan risiko kecelakaan hingga 15 kali lipat.

Begitu kata dr Andreas Prasadja, pakar kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran kepada detikHealth. Ia mengatakan bahwa orang di luar negeri yang datang memeriksakan diri untuk masalah mendengkur, akan ditarik Surat Izin Mengemudi atau SIM-nya.

Menurut dokter yang akrab disapa dr Ade itu, orang yang tidurnya mendengkur berisiko mengalami hipersomnia. Hipersomnia, mengutip webMD, mengacu pada kantuk berlebih di siang hari atau tidur berlebihan. Ini memengaruhi konsentrasi dan menguras energi, meskipun Anda memiliki waktu tidur yang cukup semalaman.

Beda halnya dengan narkolepsi yang membuat orang mengantuk luar biasa dan tidur tiba-tiba, kondisi hipersomnia membuat seseorang sangat kesulitan untuk betul-betul awas dan terjaga sepanjang hari, sehingga bisa tertidur sekilas bahkan ketika mengemudi.

Healthline menulis bahwa penyebabnya bisa diklasifikasikan menjadi dua, primer dan sekunder. Hipersomnia primer diduga disebabkan karena masalah dalam sistem otak yang mengontrol fungsi tidur dan bangun. Gejalanya, lelah berlebih.

Sementara hipersomnia sekunder, bisa disebabkan atau mengembangkan kondisi medis lain. Salah satu yang paling umum adalah sleep apnea atau henti napas saat tidur. Serupa namanya, sleep apnea adalah suatu kondisi di mana saluran udara tubuh tersumbat sehingga menyebabkan orang sulit bernapas. Kondisi ini tak seperti kurang tidur pada umumnya.

Namun, penyumbatan jalan napas tadi justru membuat penderitanya mirip kurang tidur karena sering terbangun dari tidur malam, tanpa disadari. Akibatnya, ujar dr Ade, orang yang mendengkur akibat sleep apnea itu tidurnya tidak berkualitas, tubuhnya cenderung tidak bugar, dan mudah lelah. Satu studi pun telah menemukan bahwa sleep apnea mampu menurunkan fungsi otak.

“Ketika harus mengemudi untuk perjalanan jarak jauh, risiko mengantuk lebih besar dan ini berbahaya,” jelas dr. Ade.

BACA JUGA:

Apa yang diungkap dr Ade didukung sejumlah penelitian. Pada 2015, situs American Academy of Sleep Medicine (AASM) menyatakan bahwa pengemudi yang terlibat kecelakaan sekitar 2 kali lipat lebih mungkin mengidap sleep apnea. Kala itu, presiden AASM Dr. Timothy Morgenthaler, mendesak siapa pun yang tidurnya mendengkur agar melakukan pengecekan ke dokter.

"Identifikasi efektif dan pengobatan sleep apnea sangat penting untuk mengurangi kecelakaan yang bisa dihindari dan mengancam jiwa akibat pengemudi mengantuk," ujarnya.

Lalu, pada 2016, melansir Express.co.uk, tim peneliti di Inggris menemukan bahwa bukan hanya orang yang mendengkur paling keras yang paling berisiko kecelakaan, tapi juga mereka yang dengkurannya tidak diobati.

Peneliti juga mendapati bahwa sekitar satu dari 50 orang yang tidur mendengkur tidak menyadari kebiasaan tidurnya itu. Bahkan, orang yang tahu kebiasaannya mendengkur, tak ingat sama sekali pernah tertidur saat mengemudi.

Akibatnya, mereka tidak tahu betapa berkemudi bisa jadi sangat berbahaya baginya dan keselamatan orang lain.

Terkait dua studi tadi, para ilmuwan telah mengingatkan agar pengemudi tidak melanjutkan berkendara saat mengantuk, apalagi kurang tidur. Lebih spesifik, mereka menyarankan agar orang yang mendengkur mengatasi dulu kendalanya sebelum mengemudi.

Tentu saja, penelitian 2017 yang terbit dalam jurnal Nature Medicine telah menemukan bahwa otak pengemudi mengantuk tak ubahnya pengemudi mabuk.

Kemampuan sel-sel di otak mereka sama-sama tidak berfungsi baik, sehingga mengalami penyimpangan mental sementara yang memengaruhi memori dan persepsi visual. Misal, mendadak pelupa atau otak melambat dalam menyadari sesuatu.

Bahkan, dr Ade mengatakan bahwa bahaya yang ditimbulkan akibat mengantuk bisa lebih fatal daripada mabuk. Alasannya, “Orang ngantuk sering mengabaikan rasa kantuknya sehingga lalai. Kecelakaan faktor utamanya karena lalai," tegasnya seraya menambahkan bahwa penyebab kecelakaan didominasi kurangnya kewaspadaan, akibat kemampuan motorik berkurang.